Jumat, 25 Juli 2014

Mendidik Anak dalam Keluarga

Kewajiban orang tua mendidik anak adalah merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua terhadap keluarga, anak dan istri dalam sebuah ruang lingkup keluarga. Pendidikan anak tidak hanya berfokus mengenai pendidikan dunia saja, akan tetapi juga mengenai pendidikan agama, akhlak yang baik kepada buah hati kita masing-masing. Inilah pentinganya kita untuk mengetahui akan berbagai tanggung jawab kewajiban orang tua terhadap anak yang harus para orang tua laksanakan dengan baik dan penuh dengan amanah.

Kehadiran buah hati dana anak-anak dalam sebuah keluarga adalah merupakan bagian kebahagiaan yang banyak dicari oleh para orang tua dan keluarga tentunya. Bahkan banyak pula keluarga yang mendambakan kehadiran anak dengan melakukan berbagai tips agar cepat hamil juga belum pula diberikan dan di karuniai oleh Allah Ta'ala. Untuk itulah bersyukur bila dikarunia seorang anak perempuan atau pun anak laki-laki dan sungguh-sungguh dalam memberikan pendidikan baik dalam hal pendidikan agama untuk anak dan juga pendidikan dunianya.

Tanggung Jawab Kewajiban Orang Tua

Berikut beberapa kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap keluarga yaitu :

Kewajiban Memimpin Keluarga.
Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarga. Dan kewajiban memimpin keluarga dalam hal ini. Maka orang tua mempunyai kewajiban untuk membimbing anggota keluarga menempuh agama Allah dan juga menyelamatkan dari api neraka. Allah Ta'ala berfirman : "Hai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu". (QS. At-Tahrim: 6). Dalam memimpin keluarga, maka figur orang tua dan contoh serta suri tauladan yang baiklah akan sangat membantu dalam menjalankan kewajiban ini. Tentunya sikap dan perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kewajiban Memberikan Nafkah Halal Kepada Anggota Keluarga.
Kewajiban dalam memberikan nafkah halal ini selamanya akan tetap terpikul di pundak para ayah. Adapun bagi para ibu, tidak ada kewajiban baginya untuk menafkahi keluarga. Jika kemudian pada perkembangannya para ibu bekerja untuk membantu tugas para ayah memenuhi kebutuhan keluarga dengan tetap menjaga kehormatan diri ketika keluar rumah, ia akan diberi pahala shadaqah atas apa yang diberikannya.
Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman :"Dan menjadi kewajiban para ayah, untuk memberi makanan dan pakaian kepada istri dan anak-anaknya.." (QS. Al-Baqarah:233).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Satu dinar yang engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau shadaqahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. Pahalanya lebih besar yang engkau nafkahkan untuk keluarga". (HR. Muslim)
Tidak semua jenis nafkah yang diberikan orang tua akan diganjar dengan kebaikan. Hanya nafkah yang halal sajalah yang akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang besar dan juga ampunan-Nya. Sementara sebaliknya yaitu nafkah yang haram dalam mendapatkannya, tidak akan mendapat ganti dan menambah apa pun selain kecelakaan, kesengsaraan dan kehinaan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima, dunia dan akhirat.

Kewajiban Keteladanan Yang Baik Kepada Keluarga.
Anak-anak yang lahir, tumbuh dan di besarkan dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi kelemahlembutan, dan dalam balutan pendidikan Islam yang baik maka pada saat dewasa ia pun akan menjadi pribadi yang penyabar, penuh cinta kasih dan mudah memaafkan. Karena, anak-anak belajar (terutama) dari apa yang ia lihat. Terutama dalam keluarga adalah figur ayah dan ibunya

Kewajiban Memberikan Pendidikan Kepada Anak.
Pendidikan agama yang merupakan pondasi keselamatan dunia akherat dan juga pendidikan formal atau pun non formal lainnya yang sekarang banyak di sekitar kita harus bisa kita manfaatkan oleh para orang tua dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan seorang anak yang mempunyai kepribadian dan karakter yang baik dan Islami. Pendidikan dunia dan juga pendidikan akherat dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka mendidik anak.

Sumber :
http://tautanpena.blogspot.com/2013/06/tanggung-jawab-kewajiban-orang-tua.html

Rabu, 23 Juli 2014

Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga

Seorang suami memiliki kewajiban yang sangat berat dalam membina rumah tangganya. Kewajiban suami mencakup seluruh aspek kehidupan berumah tangga termasuk di dalamnya menyayangi anak dan isterinya. Memberi kasih sayang kepada anak dan isteri bukanlah hal yang mudah, karena hal itu membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Tanpa adanya kesabaran dan keikhlasan kasih sayang yang diberikan oleh suami akan terasa hambar. Artinya, kasih sayang tanpa dilandasi kesabaran dan keikhlasan dapat menyebabkan seorang anak dan isteri semakin tersakiti, karena merasa dipermainkan oleh suaminya. Di sisi lain, kewajiban isteri termasuk bersikap adil dalam rumah tangganya. Sikap adil termasuk dapat diwujudkan melalui memberikan finansial secara merata menurut kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Perwujudan sikap adil seorang suami dapat dilihat dari kemampuan suami dalam memenuhi kebutuhan nafkah terhadap keluarganya, terutama dalam bentuk sandang, pangan, dan papan. Oleh karena itu, dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut, suami juga berkewajiban untuk bekerja keras guna terpenuhinya seluruh kebutuhan keluarganya. Di samping itu, pula suami juga memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak kepada anak-anaknya agar mereka dapat menggapai masa depan yang lebih cerah.

Senin, 21 Juli 2014

Kewajiban Menjadi Imam Keluarga

Seorang suami yang baik adalah suami yang mampu memposisikan diri sebagai imam dalam keluarganya. Imam keluarga yang dimaksudkan bukan saja menjadi panutan dalam keluarga, tetapi juga harus mampu menjadi imam bagi pelaksanaan shalat keluarganya. Di sisi lain, seorang suami juga harus mampu memberikan pengajaran agama kepada isteri dan anak-anaknya. Namun demikian, menemukan seorang suami yang mampu menjadi imam dalam keluarganya sangat sulit, karena suami yang dapat dikategorikan mampu menjadi imam keluarga setidaknya menguasai ilmu pengetahuan agama walaupun hanya sedikit. Jika suami tersebut belum mampu memahami ajaran agama dengan baik, maka dia berkewajiban mempelajari ilmu pengetahuan agama. Sebenarnya, seorang suami tersebut memiliki kewajiban yang sangat besar untuk menjadi imam keluarganya. Mengimami shalat dalam keluarga juga merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang diberikan kepada anggota keluarganya. Setidaknya, pembelajaran yang dapat dipetik melalui shalat berjama'ah adalah menjadikan contoh teladan bagi anak-anak terutama dalam melaksanakan shalat secara teratur san tepat waktu.

Being a Priest Family Obligations

A good husband is the husband who is able to position itself as a priest in the family. Imam families are meant not only be a role model in the family, but also to be able to be a priest for the implementation of family prayer. On the other hand, a husband should also be able to provide religious instruction for his wife and his children. However, finding a husband who is able to become a priest in the family is very difficult, because the husband can be categorized into priestly families least able to master the science of religion, although only slightly. If the husband is not able to understand religion very well, then he is obliged to study the science of religion. Actually, a husband has a very large obligation to be a family priest. Leading prayers in the family is also a form of learning that is given to family members. At least, the lessons learned through prayer congregation is made ​​role models for children, especially in san praying regularly on time.

Minggu, 20 Juli 2014

Pentingnya Membangun Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah

Sering kali kita mendengar ucapan “Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah” dalam setiap event pernikahan ummat Muslim. Namun ucapan tersebut bukan hanya ucapan selamat belaka, ucapan tersebut juga memiliki pesan mendalam, serta doa di dalamnya.
Dalam bahasa Arab “Sakinah” sendiri memiliki arti tenang, aman, damai, serta penuh kasih sayang. Pastinya konteks Keluarga Sakinah ini adalah idaman bagi setiap Muslim. “Mawaddah” sendiri berarti Cinta, kasih sayang yang tulus kepada pasangan dan keluarganya. Dengan sifat ini diharapkan keluarga Muslim dapat bertahan sekalipun harus mendapatkan cobaan dalam dinamika rumah tangganya. “Wa Rahmah” terdiri dari dua kata, yaitu “Wa” yang berarti dan, dan “Rahmah” yang berarti Rahmat, karunia, berkah, dan anugerah. Tentunya hal ini diharapkan agar keluarga senantiasa berada di jalan yang benar dan mendapatkan segala Rahmat disisi Allah SWT.
Adapun Ciri-ciri keluarga Sakinah adalah sebagai berikut :
  1. Senantiasa memiliki kecenderungan terhadap keagamaan dalam orientasi kehidupannya sehari-hari.
  2. Berlakunya sistem “Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda”.
  3. Tidak melebih-lebihkan dalam memenuhi kebutuhan keseharian.
  4. Menjaga etika dan sopan santun dalam bergaul di dalam masyarakat.
  5. Senantiasa menjaga dan menginterospeksi anggota keluarganya agar terhindar dari hal-hal yang munkar.
Hakikatnya, pada zaman modern ini memang tidak mudah untuk membangun keluarga Sakinah, sebab percampuran budaya yang sudah sangat melekat di dalam dinamika kehidupan masyarakat mengakitbatkan ketimpangan sosial yang sangat signifikan dalam berperilaku, sehingga mayoritas masyarakat yang terlalu nyaman dengan perkembangan zamanpun sedikit demi sedikit meninggalkan pola hidup lama dan lebih memilih pola hidup baru yang dibawa oleh dampak globalisasi.
Namun demikian, kita masih dapat mewujudkan keluarga Sakinah dengan cara :
  1. Memilih pasangan yang Shaleh/Shalehah yang taat kepada perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW.
  2. Mengutamakan keimanan dibandingkan penampilan dalam memilih pasangan.
  3. Melihat latar belakang keluarga dan nasab dari pasangan yang dipilih. Diutamakan yang memiliki nasab terjaga(baik) dan terhormat.
  4. Niatkan dari awal untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjauhi segala hubungan yang dilarang-Nya.
  5. Berkomitmen untuk tetap menjaga keutuhan hubungan dalam rumah tangga.
  6. Sebagai suami, istri ataupun anak, menjalankan tugas dan fungsinya selaku anggota keluarga dengan sebaik-baiknya.
  7. Membiasakan nilai-nilai kerohanian dalam setiap aspek kehidupan di dalamnya.
  8. Menjaga komunikasi yang baik dalam segala urusan.
  9. Memelihara dan menjaga keharmonisan keluarga dengan masyarakat sekitar.
  10. Menanamkan nilai-nilai edukatif dalam setiap kegiatan keluarga.
Hal-hal diatas hanyalah sebagian kecil dari hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membangun keluarga Sakinah di dalam bermasyarakat.
Membangun keluarga yang Sakinah merupakan sebuah awalan yang baik untuk menciptakan kondisi masyarakat yang ideal. Diawali dengan keluarga Sakinah, menuju masyarakat Madani.
Pentingnya Membangun Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah – Yoga Zeminicho

Sumber :

Sabtu, 19 Juli 2014

Memupuk Kedamaian dalam Rumah Tangga

Menciptakan kedamaian dalam rumah tangga merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan, karena untuk menciptakan kedamaian rumah tangga membutuhkan pengertian kedua pihak baik suami maupun isteri. Tanpa adanya pengertian keduanya, upaya menciptakan kedamaian tidak mungkin dalam dilakukan dengan baik. Menciptakan kedamaian rumah tangga tidak saja dilakukan kepada isteri atau anak-anak, tetapi mencakup seluruh anggota keluarga termasuk di dalamnya orang tua dan mertua. Namun banyak orang yang beranggapan bahwa menciptakan kedamaian rumah tangga hanya berlaku dalam kalangan keluarga sendiri tanpa harus memikirkan pihak lain seperti orang tua atau saudara. Sebenarnya yang dikatakan rumah tangga adalah semua orang yang ada di dalamnya. Namun kenyataan yang terlihat selama ini membangun kedamaian dalam rumah tangga tidak berjalan sempurna disebabkan ada salah satu anggota keluarga yang selalu berbuat onar seperti mencaki, memaki, menggunjing, mengungkit masa lalu dan lain sebagainya. Jika hal tersebut tidak mampu dihindari, maka jangan harap kedamaian dalam rumah tangga dapat terbina dengan baik. Oleh karena itu, saya sangat berharap kepada semua keluarga yang ingin menciptakan kedamaian dalam rumah tangga harus menciptakan suasana yang aman tenteram, sehingga terciptakan rumah tangga yang bahagia, sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Cultivate Peace in the Household
 
Creating peace in the household is a very difficult thing to do, because to create domestic peace requires understanding of both parties, both the husband and wife. Without the understanding of both, the efforts to create peace is not possible in a well-done. Creating peace households not only done to the wife or children, but covers all family members including parents and in-laws. However, many people assume that creating peace is only valid within the household itself among families without having to think about other parties such as parents or siblings. Actually it says household is all the people in it. But the fact that there is hardly build peace in the household does not run perfectly because there is one family member who always do a scene like mencaki, cursing, gossip, up the past and so forth. If it is not able to be avoided, so do not expect peace in the household can be nurtured well. Therefore, I really hope to all families who want to create peace in the household should create an atmosphere that is safe and sound, so it spawned a happy home, Vegas, mawaddah, and warahmah.

Kamis, 17 Juli 2014

Memberikan Kasih Sayang Tulus

Seorang suami sekaligus kepala keluarga harus memberikan kasih sayang tulus kepada seluruh anggota keluarganya termasuk anak-anak dan isterinya. Oleh karena itu, percayalah kasih sayang yang diberikan secara tulus akan memberikan rahmat bagi seluruh keluarga. Di samping itu, kasih sayang yang tulus juga akan memberikan nuansa kebahagiaan dalam berumah tangga, keharmonisan dalam rumah tangga sangat didambakan oleh seluruh umat manusia. Di samping itu, menerima kasih sayang yang tulus tersebut merupakan hak dari semua anggota keluarga. Sebab dengan adanya kasih sayang tersebut dapat dijadikan sebagai cerminan dalam menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah merupakan keluarga yanag selalu diidam-idamkan oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Oleh karena itu, sangat diharapkan kepada seluruh kepala keluarga untuk memberikan kasih sayang yang tulis kepada isteri dan anak-anaknya terlebih lagi kepada kedua orang tuanya.
 
Gives Heartfelt Compassion  

A husband and head of the family should give genuine affection to all family members including children and wife. Therefore, trust the love that is given sincerely will give grace for the whole family. In addition, genuine affection will also give you a feel of happiness in a household, domestic harmony highly coveted by all mankind. In addition, receive genuine affection that is the right of all members of the family. Because the presence of affection can be used as a reflection in creating a happy family, mawaddah, warahmah. Happy family, a family mawaddah and warahmah yanag always coveted by all people in this world. Therefore, it is desirable to all heads of families to give affection wrote to his wife and children even more so to his parents.
 
 

Rabu, 16 Juli 2014

Playing with Children

Setiap orang tua harus menyayangi anak sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri, karena anak merupakan anugerah terbesar yang diberikah oleh Allah SWT kepada orang tuanya. Menyayangi anak dapat dilakukan dengan cara sering berlaku dekat dengan anak. Artinya, setiap orang tua harus meluangkan sedikit waktu untuk menemani anak dalam bermain, dengan cara tersebut anak akan merasa dengan orang tuanya. Tetapi kenyataan yang terjadi selama ini, sangat banyak orang tua yang tidak memiliki cukup waktu untuk menemani anaknya bermain. Padahal, menyediakan waktu yang cukup untuk anak termasuk salah satu cara untuk mendidik anak agar mereka menjadi anak-anak yang lebih bahagia dalam rumah tangganya.

Each child's parents should love as he loves himself, because the child is the greatest gift that diberikah by God to his parents. Caring can be done by children often apply close to the child. That is, each parent should spend a little time to accompany the child in play, with the way the child will feel with his parents. But the fact that during the time, so many parents who do not have enough time to accompany his son play. In fact, providing sufficient time for the kids including a way to educate children so that they become the children were happier in their household.

Senin, 14 Juli 2014

Seni Mengatasi Anak Bandel

Anak-anak yang nakal biasanya dapat menyebabkan orang tua menjadi jengkel terhadap keberadaan anaknya. Seharusnya orang tua tidak perlu merasa jengkel menghadapi anak yang nakal, karena kenakalan anak biasanya disebabkan oleh kemampuan intelektual anak yang lebih dari anak-anak biasanya. Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak nakal dapat menghadapinya dengan cara memberikan kasih sayang yang lebih, karena dengan memberikan kasih yang lebih anak akan merasa diperhatikan. Sebab kenakalan anak terjadi karena mereka ingin diberikan perhatian lebih orang tuanya. Bahkan cara yang lebih tepat menghadapi anak nakal dapat dilakukan dengan cara mengusap kepala anak jika anak sudah bertingkah laku bamdel. Sebab dengan mengusap kepala umumnya anak akan merasa disayangi oleh orang tuanya. Di sisi lain, cara menghadapi anak nakal juga dapat dilakukan dengan cara memeluk anaknya, karena dengan begitu pula anak juga akan merasa berada dalam perlindungan orang tuanya. Oleh karena itu, setiap orang tua tidak perlu mengucilkan anak yang sedang berlaku aneh, tetapi seyogyanyalah memberikan kasih sayang yang lebih kepada anak yang sering berlaku aneh di depan orang tuanya atau bahkan di depan orang lain. Dengan demikian, untuk semua orang tua bersabarlah dalam menghadapi anak-anak yang bersifat nakal demi menjaga keutuhan rumah tangga, karena pada umumnya kekacauan rumah tangga cukup banyak disebabkan oleh cara memperlakukan anak.

Minggu, 13 Juli 2014

Kewajiban Orang Tua untuk Menanamkan Pendidikan Agama pada Anak

Orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama, apalagi pendidikan agama merupakan sebuah pendidikan yang berlandaskan pada tujuan untuk berbakti kepa Allah SWT sebagai Sang Khalik. Jika orang tua tidak memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, maka sudah barang pasti anaknya tidak memahami pengetahuan agama dengan lebih baik, sehingga anak-anak yang melakukan perbuatan yang menyimpang dengan ajaran agama. Jika anak sudah melakukan perbuatan menyimpang tersebut, maka orang tua sudah harus bersiap-siap untuk menanggung resiko terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya. Sebagai contoh, jika seorang anak mencuri disebabkan oleh ketidaktahuannya bahwa mencuri itu termasuk perbuatan mungkar, maka yang disalahkan adalah orang tuanya yang tidak mampu memberikan pendidikan yang layak untuk anaknya. Namun demikian, jika orang tua telah memenuhi kewajibannya untuk mendidik anak ke arah lebih baik, sedangkan anaknya masih melakukan perbuatan yang melanggar aturan, maka orang tidak perlu menanggung resiko akibat perbuatan anaknya, bahkan orang tua dibolehkan untuk melepaskan tangannya. Jika orang tua tidak mampu memberikan pendidikan anak sendiri, maka pendidikan anak tersebut boleh diwakilkan kepada lembaga yang menangani masalah pendidikan seperti sekolah dan pesantren. Memberikan pendidikan anak melalui lembaga tersebut, orang tua hanya dikenakan sedikit biaya sebagai penunjang keberlangsungan proses pendidikan. Namun demikian, orang tua juga memiliki kewajiban untuk terus mengawasi perkembangan pendidikan anaknya. Pemberian pendidikan agama bagi termasuk salah satu upaya untuk menciptakan keluarga sakinah mawaddah warahmah, karena ketika anak sudah memahami ilmu agama, ketidakharmonisasi dalam rumah tangga akan teratasi dengan baik. Wallahu A'alam.

Tidak Perlu Banyak Menuntut

Seorang suami memiliki kewajiban untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya, baik untuk isteri maupun anak-anaknya. Tetapi kewajiban memenuhi nafkah yang dibebankan kepada suami sesuai dengan kemampuan suami dalam mendapatkan penghasilan. Jika suami menerima penghasilan sedikit, maka kewajiban memenuhi nafkah keluarga juga sedikit. Namun kenyataan selama terlihat jelas bahwa cukup banyak isteri yang menuntut lebih dari suaminya, padahal apa yang dituntut oleh isteri tersebut berada di luar batas kemampuan suami. Padahal, menurut ketentuan agama Islam, seorang isteri harus menerima apa yang dibawa oeh suami dengan lapang dada, dengan harapan suami tidak membawa harta yang diperoleh hari hasil yang tidak dibenarkan oleh agama. Sebenarnya, menuntut apa saja yang di luar kemampuan suami merupakan jalan utama untuk menciptakan keretakan rumah tangga, karena ketika suami tidak mampu memenuhi tuntutan isterinya akan berujung pada pertengkaran. Oleh karena itu, bagi pasangan suami isteri yang ingin menciptakan suasana rumah tangga bahagia, sakinah mawaddah warahmah tidak perlu banyak menuntut hal-hal yang tidak mampu dipenuhi oleh suami. Dan menuntut segala sesuatu yang tidak mampu dipenuhi merupakan tindakan yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama, dan hal itu akan menyebabkan suami akan berlaku curang dalam mencari nafkah demi untuk memenuhi tuntutan isterinya. Isteri yang baik adalah isteri yang tidak pernah menuntut lebih dari suaminya, tetapi ia hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT atas rezeki yang diperoleh oleh suami selama bekerja. Dengan demikian pasangan suami isteri seperti itu akan selalu mendapat rahmat dan karunia dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Sabtu, 12 Juli 2014

Berusaha Selalu Menghargai Isteri

Seorang suami yang baik adalah suami yang selalu menyanyangi pasangannya yang dilakukan dengan menghargai atas setiap kerja keras yang dilakukan oleh isterinya. Sebab apa yang dilakukan oleh seorang isteri tidak lain bertujuan sebagai baktinya kepada suami. Mengurus anak, mencuci pakaian, memasak, ataupun bekerja merupakan salah satu bentuk pengabdian dan pengorbanan yang dilakukan isteri kepada suami. Semua hal itu tidak mungkin dilakukan oleh suami sendiri, karena selain sibuk dengan bekerja, suami juga memiliki tugas dan tanggung jawab lainnya dalam mencari kebutuhan finansial keluarga. Terlalu naif jika ada suami yang menganggap isteri tidak bekerja dan hanya duduk berpangku tangan menunggu apa yang dibawa oleh suaminya. Padahal, apa yang dikerjakan isteri di rumah tidak lebih ringan dibandingkan dengan apa yang dikerjakan oleh suami di luar rumah. Apalagi ada sebagian isteri yang mengurus rumah tangga sambil bekerja di luar rumah untuk membantu suami dalam memneuhi kebutuhan rumah tangga. Tetapi kenyataannya masih ada suami yang sama sekali tidak pernah menghargai apa yang dikerjakan oleh isteri. Sesungguhnya berusaha menghargai apa yang dikerjakan oleh isteri merupakan perbuatan yang paling bijak yang pernah dilakukan oleh seorang suami. Oleh karena itu, berusahalah selalu menghargai apa yang dilakukan oleh isteri, dengan begitu, maka rumah tangga akan selalu terlihat aman, tenteram, bahagia, sehingga dapat tercapai cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia, sakinah mawaddah warahmah. Amin Ya Allah Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Membentuk Jadi Diri Anak

Mengarahkan anak ke jalan yang baik dan benar merupakan beban dan tanggung jawab yang harus dibebankan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu, membentuk jati diri harus dilakukan sesegera mungkin sebagai upaya melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepada kedua orang tua. Membentuk jati diri anak dapat dilakukan dengan cara memberikan pendidikan yang maksimal kepada mulai dari pendidikan agama sampai pendidikan umum, karena pendidikan memberikan andil yang cukup besar dalam proses pembentukan jati diri. Di sisi lain, pembentukan jati diri anak juga dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak untuk melakukan hal-hal yang baik seperti shalat, mengaji, puasa, dan sebagainya. Pembiasaan dengan melaksanakan hal-baik merupakan strategi yang paling tepat untuk membentuk perilaku anak, karena melalui membiasakan anak-anak akan terbiasa dengan hal-hal yang baik. Demikian pula dengan kebiasaan berperilaku yang baik, maka suatu saat akan terbiasa dengan perilakunya yang baik pula. Namun demikian, pembentukan perilaku anak ini umumnya ditanamkan pada anak-anak masih berusia balita, karena pada usia ini anak-anak masih suci dari berbagai pengaruh luar yang menyebabkan anak menjadi susah diarahkan. Dengan demikian, setiap orang memiliki kewajiban yang sama dalam menanamkan kebaikan dalam segala aspek kehidupan anak. Apalagi tingkah laku yang diperlihatkan oleh anak merupakan cerminan dari perilaku orang. Artinya, jika perilaku anak baik, maka menandakan baik pula perilakukan oang tua, demikian juga sebaliknya, jika perilaku anak jelek, maka hal itu membuktikan bahwa perilaku orang tuanya juga jelek. Namun pada kenyataannya tidak ada orang tua di dunia ini yang rela dikatakan sebagai orang tua yang tidak berhasil mendidik anak. Oleh karena itu, seharusnya orang memberikan fondasi pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anaknya agar kelak anaknya menjadi berguna bagi agama, nusa, bangsa, dan masyarakat. Semoga..............................!

Jumat, 11 Juli 2014

Menjadikan Masa Lalu Sebagai Pengalaman

Masa lalu memiliki kenangan manis ataupun kenangan pahit yang sama dirasakan oleh seluruh pasangan suami isteri, Namun masa yang manis menjadi sebuah motivasi dalam menggapai kehidupan rumah tangga bahagia sakinah mawaddah dan warahmah. Demikianjuga sebaliknya, kenangan pahit akan menjadi pemicu keretakan sebuah rumah tangga. Oleh karena itu, siapapu ndia dan dimanapun berada sebaik kenangan masa lalu, baik manis maupun pahit tidak perlu ditutup-tutupi kepada pasangan, karena jika kenangan pahit yang didengar oleh pasangan melalui orang lain, maka hal ini akan berakibat fatal. Namun demikian, jika pasangan menceritakan kenangan masalah yang pahit, maka yang seharusnya dilakukan adalah menjadi pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk menjalani hidup lebih baik, karena orang yang menjadi pengalaman masa sebagai kenangan hidup, maka tersebut mendapatkan kehidupan lebih indah kelak. Tetapi sebaliknya, jika ada orang yang menjadi masa lalu sebagai hantu dalam kehidupannya, maka kehidupannya akan menjadi berantakan. Demikian pula halnya dengan kehidupan rumah tangga, jadikanlah setiap masa lalu masing-masing pasangan suami isteri sebagai pengalaman hidup yang bermanfaat, karena dengan begitu akan terbentuk kehidupan rumah tangga yang bahagia sakinah mawaddah dan warahman sebagai rumah tangga dambaan semua umat manusia.

Seni Mendidik Anak dalam Rumah Tangga

Mendidik anak merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada kedua orang tua. Mendidik anak dapat dilakukan dengan memberi contoh teladan yang baik kepada anak. Di sisi lain, mendidik anak juga dilakukan dengan memberi nasehat jika anak melakukan kesalahan. Mendidik anak juga dapat dilakukan dengan membiasakan melakukan hal-hal yang baik. Setelah tiga hal tersebut dilakukan, maka langkah terakhir yang dapat dilakukan adalah memberi hukuman bila anak melakukan pelanggaran. Seni mendidik anak tersebut dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali. Mendidik anak dengan menerapkan empat hal tersebut di atas akan menciptakan proses pendidikan yang berhasil. Oleh karena itu, orang tua yang ingin mendidik anaknya ke jalan yang lebih baik seharus menggunakan metode tersebut, karena penerapan metode pendidikan yang dikemukakan Imam Al-Ghazali mampu meningkatkan pemahaman anak dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Untuk menyukseskan pendidikan anak dalam rumah tangga membutuhkan sebuah seni mendidik yang tepat agar anak mampu menyerap ilmu pengetahuan yang ditransfer kepadanya. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi selama ini konsep pendidikan yang dikemukakan di atas sangat jarang digunakan, malah yang sering digunakan adalah orang selalu menghukum jika terjadi pelanggaran. Padahal, memberi hukuman merupakan langkah terakhir yang ditempuh dalam proses pendidikan. Di sini membuktikan bahwa orang tua belum mampu menguasai seni mendidik anak dengan baik dan benar. Dengan demikian, jika orang ingin proses pendidikan anak dapat berhasil dengan baik, maka gunakan seni mendidik anak sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali di atas.

Kamis, 10 Juli 2014

Cara Efektif Memberi Kasih Sayang Kepada Anak

Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kedua orang tuanya. Bahkan sebagian pasangan suami isteri yang belum dikarunia anak merasa sedih dengan berbagai harapan dan anggapan agar anak yang diidam-idamkan tetap membuat riuh rendah rumah tangganya. Akan tetapi bagi sebagian pasangan suami isteri yang telah dikaruniai anak sering menyia-nyiakan amanah Allah tersebut. Padahal menyia-nyiakan amanah yang diberikan Allah SWT termasuk dosa besar. Seharusnya pasangan suami isteri yang telah mendapatkan momongan menjaga dan merawat anak dengan baik agar anaknya dapat merasakan kasih sayang yang diberikan orang tuanya. Salah satu cara paling efektif untuk memberi kasih sayang kepada anak dapat dilakukan dengan cara mendekap anak ketika sianak merasa sedih ataupun ketika orang tuanya pulang kerja. Dengan begitu anak akan merasa terlindungi dan kelak anak juga akan memberikan kasih sayangnya kepada kedua orang tuanya. Percayalah apa yang diberikan kepada anak sewaktu mereka masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang, maka hal itu akan diterima oleh kedua orang tua ketika membutuhkan perhatian dan kasih sayang di masa tua kelak. Artinya, jika orang tua memberi kasih sayang kepada anak dengan cara yang baik, maka dia juga akan memberi kasih sayang yang baik pula kepada kedua orang tuanya. Hal ini membuktikan bahwa apa yang ditanam orang tua pada waktu anaknya masih kecil, maka hal itulah yang akan dipetik orang tua ketika memasuki masa tuanya. Perlu diketahui bahwa memberi kasih sayang kepada anak tidak hanya sekedar menyediakan finansial secara cukup, tetapi memberi kasih sayang secara bathiniah lebih penting dibandingkan penyediaan finansial secara berlebihan.

Rabu, 09 Juli 2014

Menjadi Orang Tua Teladan

Orang tua merupakan panutan yang harus selalu diikuti dan dijunjung oleh ana-anaknya, karena orang tua adalah orang pertama dan utama sekali menjadi guru bagi anak-anaknya. Bahkan orang tua menjadi suri tauladan bagi anak, sebab anak akan mengikuti apa saja yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu, setiap orang tua harus senantiasa berbuat kebaikan dan kebajikan agar anak-anak dapat meniru orang tua. Akan tetapi, orang tua sekarang tidak lagi menjadi tauladan bagi anak-anaknya, karena orang tidak lagi berwibawa di depan anak-anak. Penyebabnya adalah kebanyakan orang tua sudah tidak adanya keseimbangan antara perkataan dengan perbuatan. Sebagai contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah ada sebagian orang tua yang menyuruh anaknya untuk mendirikan shalat, tetapi orang tuanya tidak pernah mendirikan shalat, sehingga ketika orang menyuruh anaknya untuk shalat, anak-anak sering menjawab kenapa ayah atau ibu hanya pintar menyuruh kami, sedangkan ayah atau ibu tidak pernah melaksanakannya. Seharusnya, orang yang baik adalah orang yang mampu memberikan contoh teladan yang baik bagi anak-anaknya dengan cara menjaga marwah di depan anak-anak. Tetapi, jika hal tersebut belum mampu dilaksanakan, maka tidak ragu bahwa orang tua tersebut tidak akan pernah berhasil mendidikan dan menjadi tauladan bagi anaknya. Dengan demikian, melalui tulisan ini sangat diharapkan agar orang tua mampu menjadi teladan bagi anaknya dengan melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar dengan melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi setiap laranganNya. Dengan begitu orang tua tersebut sudah pantas disebut sebagai orang tua yang dapat diteladani oleh anak-anaknya.

Selasa, 08 Juli 2014

Menanamkan Prinsip Hidup

Prinsip adalah keteguhan sebuah pegangan dalam kehidupan manusia yang selalu dikedepankan dalam segala aspek hidupnya. Prinsip ini dapat pula dikatakan sebagai falsafah hidup. Orang yang selalu memegang pada prinsip hidup yang benar, maka dia akan selalu mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Seorang umat manusia harus memiliki falsafah hidup bahwa segala sesuatu yang dipikirkan dan menjadi anggapannya, maka hal itu tersebut tidak pernah terjadi sebagaimana yang dipikirkan, karena apa yang dipikirkan tersebut selalu bertentangan dengan kenyataan. Maksudnya, jika seseorang berpikir tentang suatu mengenai ketakutan, maka ketakutan itu tidak pernah terjadi, melainkan yang terjadi adalah kesenangan. Sebagai contoh, jika seorang suami berbicara dengan seorang wanita dan dilihat oleh isterinya, kemudia isteri berpikir suaminya selingkuh, maka selingkuh yang dipikir oleh seorang isteri tersebut tidak pernah ada, tetapi kenyataannya seorang suami tersebut berbicara dengan wanita tadi hanya sebatas masalah pekerjaannya. Oleh karen itu, dalam kehidupan berumah tangga sebaiknya seorang suami atau isteri harus selalu memiliki prinsip dalam kehidupan berumah tangga, karena dengan memiliki prisip hidup, maka keutuhan rumah tangga akan selalu terjaga dan langgeng untuk selamanya. Dengan demikian, prinsip hidup tersebut harus selalu dipegang demi menjaga keutuhan rumah tangga. Wallahu A'lam Bissawab.

Minggu, 06 Juli 2014

Membangun Sikap Saling Menghargai

Salah satu sikap terpuji yang harus dibangun dalam mencapai kebahagiaan berumah tangga adalah mengedepankan sikap saling menghargai antara suami, isteri maupun anak-anak, karena dengan adanya sikap saling menghargai tersebut anggota keluarga yang lain akan merasa tersanjungi. Memang membangun sikap saling mengharga sangat sulit ditegakkan, tetapi siapapun dia harus berusaha menghargai orang lain termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda usianya. Dalam upaya mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga, memupuk sikap saling menghargai adalah harga mati. Namun kenyataan yang terjadi selama ini, sangat sedikit orang yang menghargai orang lain, tetapi yang paling banyak adalah orang yang mengharapkan dihargai orang lain. Padahal, tidak mungkin seseorang dihargai apabila ia tidak menghargai orang lain. Oleh karena itu, seorang suami harus merendahkan dirinya untuk menghargai apa yang dikerjakan oleh isteri dan anak-anaknya, asalkan yang mereka kerjakan tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama. Demikian pula halnya dengan seorang isteri juga harus menghargai setiap kerja keras yang dilakukan suami terutama dalam mencari nafkah. Sebab apapun yang dilakukan oleh seorang suami ataupun isteri bertujuan untuk membina keutuhan rumah tangganya. Tujuan mulia tersebut patut diberi penghargaan oleh pasangannya sebagai pemberi semangat kepada suami maupun isteri. Jika sikap saling menghargai dalam rumah tangga mampu dibangun dengan baik, maka kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga akan selalu dapat dipertahankan. Semoga.......

Sabtu, 05 Juli 2014

Strategi Mengahadapi Suami atau Isteri yang Bandel

Dalam rumah tangga terjadi percekcokan merupakan hal yang biasa. Bahkan tentang hal ini ada orang yang beranggapan percekcokan dalam rumah tangga diibaratkan bagai sendok dan piring yang tidak mungkin dihindari untuk tidak berbenturan. Padahal anggapan semacam ini tidak boleh dibiarkan, karena percekcokan dalam rumah tangga itu sangat memungkinkan untuk dihindari, karena hal itu dapat terjadi karena kelalaian salah satu pihak baik suami maupun isteri. Di sisi lain, terjadinya cekcok dalam rumah tangga disebabkan oleh adanya anggapan sebagaimana disebutkan di atas. Sebenarnya, anggapan itu merupakan sebuah ilustrasi yang membolehkan terjadi pertengkaran dalam rumah tangga. Dan anggapan tersebut merupakan anggapan yang sangat salah, karena percekcokan dalam rumah tangga sangat memungkinkan untuk dihindari dengan catatan masing-masing pihak saling menyadari atas setiap kesalahan yang dilakukannya. Jika pertengkaran tersebut juga terpaksa terjadi, maka jalan yang paling tepat ditempuh adalah dengan cara salah satu pihak (suami atau isteri) membiarkan terlebih dahulu hal tersebut terjadi, tetapi setelah sama-sama sudah tenang, maka musyawarahkan apa yang menjadi penyebab terjadi kesalahpahaman tersebut. Dengan demikian, setiap penyebab terjadi kesalahpahaman dapat direnungi sehingga tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Namun jika, ada salah satu pihak yang bandel dan menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, maka hal yang paling tepat dilakukan dengan bersikap acuh terhadap sikap pasangannya, karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dan senang diacuhkan, apalagi yang melakukannya adalah pasangannya. Dan dengan bersikap acuh, pasangan penyebab terjadi kesalahpahaman lebih cepat menyadari kesalahannya. Dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat memperbaiki rumah tangga siapa saja yang sedang dilanda konflik.

Jumat, 04 Juli 2014

Bersama-Sama Mengasuh Anak

Anak adalah amanah yang diberikan kepada orang tua untuk mendapat perawatan dan pendidikan sejak anak masih dalam kandungan hingga ia dewasa. Perawatan dan pendidikan yang harus diterima oleh seorang anak sangat tergantung menurut usia anak tersebut. Jika anak masih di bawah usia lima tahun (balita), berarti orang harus ekstra hati-hati dalam merawat dan mendidik anaknya. Akan tetapi bila anak telah mulai menginjak usia remaja, apalagi memasuh usia dewasa, maka perawatan dan pengasuhannya tidak sesulit sewaktu anak masih balita. Oleh karena itu, merawat dan mendidik anak harus dilakukan oleh orang tua secara bersama-sama, yaitu sama-sama memberikan perhatian dan pengertian penuh kepada anaknya. Artinya, keseimbangan dalam merawat dan mendidik anak harus selalu terjaga antara ayah dan ibunya, karena kedua orang tua memiliki peran yang berbeda dalam mendidik anak, tetapi keduanya sangat dibutuhkan dalam merawat dan mendidik anak. Seorang ibu memiliki tanggung jawab dalam memberi perhatian dan kasih kepada anak-anaknya, sedang ayah juga memiliki tanggung jawab dalam memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan anak, terutama dalam bentuk keperluan materi. Kebersamaan dalam mengasuh anak membuktikan bahwa keluarga yang terbina sudah memasuki wujud sakinah, mawaddah, warahmah, karena keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah merupakan keluarga yang hidup selalu dalam senasib dan sepenanggungan, dalam arti sepasang suami isteri selalu bahu membahu dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai suami maupun isteri. Dengan demikian, kewajiban merawat dan mendidik anak juga termasuk tugas dan tanggung jawab yang mereka emban secara bersama-sama. Tanpa membantu satu sama lainnya, usaha merawat dan mendidikan anak tidak berjalan sebagaimana diharapkan, yaitu mendidik anak menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Untuk mencapai pendidikan sebagaimana yang diharapkan, tentunya membutuhkan pengertian dan pengorbanan dari kedua orang tuanya, karena dengan perhatian dan pengertian orang tuanyalah anak dapat dibentuk sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kebersamaan dalam mendidik dan mengasuh anak sangat diperlukan guna terciptanya sebauah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Wallahu A'lam Bissawab.

Rabu, 02 Juli 2014

Jangan Khianati Kepercayaan

Seorang suami atau isteri sering bekerja di luar rumah yang merupakan salah satu bentuk kepercayaan yang diberikan pasangannya. Bekerja di luar rumah merupakan kepercayaan yang harus dijaga, karena pada umumnya pasangan suami atau isteri sekarang ini cenderung memanfaatkan kepercayaan pasangannya untuk berselingkuh. Padahal kepercayaan yang diberikan untuk bekerja di luar rumah termasuk kepercayaan yang tak ternilai harganya. Seorang suami atau isteri yang bekerja di luar rumah harus senantiasa menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pasangannya. Namun kenyataan yang terjadi selama ini, kepercayaan yang diberikan pasangan, sering digunakan sebagai kesempatan untuk menjalin perselingkuhan. Padahal, perselingkuhan merupakan jalan yang cepat untuk merusak reputasi seseorang. Dengan berselingkuh, orang sering kehilangan anak dan isteri, pekerjaan, dan sekaligus kepercayaan.

Tumbuhkan Sikap Saling Sayang dalam Keluarga

Sebuah rumah tangga bahagia selalu menumbuhkan sikap saling sayang satu sama lainnya. Seorang suami harus memberikan kasih sayang kepada isteri dan anak-anaknya. Demikian pula halnya dengan seorang isteri juga harus memberikan kasih sayang yang tulus kepada suami  dan anaknya. Jika hal itu sama-sama dilakukan oleh pasangan suami isteri sudah pasti keluarga yang mereka bina akan mencapai tingkat sakinah mawaddah warahmah. Keluarga sakinah mawaddah warahmah merupakan keluarga dambaan seluruh umat manusia. Membina keluarga sakinah mawaddah dan warahmah yang selalu dilandasi dengan kasih sayang kepada seluruh anggota keluarganya, merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada suami maupun isteri. Kasih sayang yang harus diberikan oleh suami maupun isteri tidak saja dalam bentuk memberikan materi semata, tetapi juga harus diberikan kasih sayang dalam bentuk lahir dan batin. Artinya, memberikan kasih sayang dalam bentuk lahir adalah dilakukan dengan cara memberikan materi yang cukup, sedangkan kasih sayang dalam bentuk batin adalah dilakukan dengan cara memberikan kasih dan sayang dan rasa cinta kepada isteri dan anak-anaknya. Oleh karena itu, seorang suami berkewajiban memberikan kasih sayang kepada isteri dan anak-anaknya. Bahkan akan sangat berdosa seorang suami yang tidak memenuhi kewajiban dengan menyia-nyiakan tugas dan kewajibannya untuk memberikan kasih sayang kepada seluruh anggota keluarganya. Oleh karena itu, dengan menumbuhkan sikap saling sayang sesama anggota keluarga akan menjamin terciptanya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Selasa, 01 Juli 2014

Jangan Pernah Berbuat Bohong

Bohong adalah salah satu penyakit yang selalu menghinggapi hati siapapun untuk tujuan mencari kemenangan semu yang pada akhirnya sering menimbulkan bencana. Bohong biasanya dilakukan untuk membenarkan yang salah dan untuk menutupi segala kesalahan yang pernah dilakukan. Bohong juga termasuk penyakit yang menahun (bersifat kontinyu), karena sekali berbuat bohong, maka akan menimbulkan kebohongan yang sama pada waktu yang berbeda. Oleh karena itu, siapapun, sebenarnya bohong sudah seharusnya ditinggalkan, karena merusak kepercayaan orang lain, bohong juga akaan menciptakan suasana rumah tangga yang dapat membawa kepada konflik keluarga. Dalam kehidupan berumah tangga cukup sering diselumuti dengan kebohongan. Sebagai contoh seorang suami yang pulang malam karena kencan dengan cewek lain, waktu ditanya oleh isterinya kenapa pulang malam, pasti menjawab banyak tugas di kantor. Demikian juga sebaliknya, seorang isteri yang memberikan bantuan kepada orang tuanya juga jarang diberitahukan kepada suaminya. Padahal, sering berbohong kepada pasangan merupakan upaya pertama dan utama dalam menciptakan keretakan rumah tangga. Sebenarnya, semua kita berusaha menciptakan rumah tangga yang tenteram dan penuh kedamaian, tetapi jika masing-masing pasangan masih membohongi yang lain, maka sangat mustahil kehidupan rumah tangga yang bahagian dan sejahtera dapat terwujud, karena pada saat sebuah kebohongan terbongkar, maka pada saat itulah terjadi malapetaka besar dalam rumah tangga. Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat bohong, jika anda ingin menciptakan rumah tangga bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah, Wallahu A'lam Bissawab.

Sambut Suami dengan Senyum

Seorang isteri yang ingin hidup bahagia didampingi oleh suami yang selalu setia, selalu menyambut kepulangan suami dengan senyuman. Sebab senyuman seorang isteri merupakan penawar penat dan gundah gulana yang dihadapi oleh suami saat sedang bekerja. Senyum seorang isteri juga termasuk obat bagi suami yang mengalami depresi pada bekerja. Karena itu, isteri yang memahami akan pekerjaan suaminya tidak akan pernah menyambut kepulangan suami dengan muka masam, tetapi menyambutnya dengan sapaan yang manis dan senyuman manis. Jika seorang isteri mampu memberikan senyuman manis setiap suami pulang kerja, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada seorang suamipun di  dunia ini yang akan selingkuh, bahkan sebaliknya suami tersebut akan bertambah rasa cinta dan sayang kepada isterinya tersebut. Namun demikian, kenyataan yang terjadi selama ini tidak sedikit isteri yang menyambut suaminya dengan cercaan yang menyakitkan hati suami dikarenakan suami tidak membawa bekal apapun pada saat pulang ke rumah. Cercaan dan gunjingan isteri tersebut membuktikan bahwa isteri belum mampu menjaga perasaan suaminya yang pada akhirnya akan menimbulkan keretakan dalam rumah tangga. Demikian pula halnya dengan suami juga harus bersikap sabar dan tenang ketika pulang kerja, dalam artinya seorang suami tidak perlu merintih ataupun bersikap kasar terhadap isterinya. Jika keduanya sama-sama tahu menjaga perasaan masing-masingsudah dapat dipastikan bahwa keutuhan rumah tangga akan terjamin sepanjang masa, dan pada akhirnya tercipta keluarga bahagia, sakinah,  mawaddah, dan warahmah, dan hal itu menjadi idaman bagi seluruh umat manusia yang ada di dunia ini.